NEWS

Sesajen dan Kearifan Lokal

MALANG – Kalau kita cermati, di tempat-tempat ‘spesial’ yang identik peninggalan peradaban masa lalu, ada sesajen diletakan di atas atau di bawah atau di antara bebatuan maupun bata kuno. Sepintas bagi orang yang tidak paham tradisi leluhur, langsung ‘negatif thinking’, tanpa terlebih dulu klarifikasi mengapa begini, mengapa begitu. Ujung-ujungnya ‘mendakwa’ sesajen dengan pikiran yang salah, walaupun dianya mengatakan pikirannya benar.

Asumsi di atas asumsi, sudah pasti runtuh, karena sejak awal pondasinya berdasarkan asumsi, bukan fakta. Kalau pondasinya terbuat dari asumsi, lalu di atasnya asumsi, selanjutnya di atasnya lagi juga asumsi, di titik teratas, sudah pasti bakal jatuh. Asumsi tak memiliki fakta, karena fakta bukan berdasarkan asumsi, melainkan penjelasan yang bisa ‘diterjemahkan’ dalam berbagai pandangan.

Saya menjelaskan sesajen dari sudut pandang yang berbeda-beda, tapi semua bisa di logika, nalar dan akal sehat. Artinya, saya tidak bicara sesajen dalam pandangan asumsi, tapi pandangan fakta. Maksudnya, fakta bisa dijelaskan berdasarkan realitas, bukan pikiran yang cenderung ‘tidak netral’, alias berat sebelah.

Bicara sesajen, terlebih dulu kita cermati, apa saja yang ada di sesajen. Di sesajen, ada kembang, dupa, kemenyan, kopi, rokok (umumnya kretek), buah (umumnya pisang), dan lainnya. Apa maksudnya? semua ada maksudnya, dan semua mengarah pada ‘sinkronisasi’ dan ‘harmonisasi’.

Sesajen diidentifikasi salah satu respon manusia dengan Tuhan, manusia dengan makhluk ciptaanNya, manusia dengan manusia. Apabila ketiga respon itu dilakukan, otomatis ada kebahagiaan yang mendampingi kehidupan manusia.

Orang Jawa kuno berpendapat, alam adalah hasil karya Tuhan, dan Tuhan disebut sebagai ‘Superior’ yang tak terjangkau, tak terbatas serta tak tergambarkan. Manusia tak mampu menjangkau eksistensi Tuhan karena keterbatasannya, Tuhan tak memiliki batas ruang maupun waktu, dan Tuhan tidak diketahui gambarannya oleh manusia, namun ‘pancarannya’ bisa diketahui ‘indra’ manusia.

Pancaran Tuhan bisa berwujud fisik atau non fisik, karena eksistensiNya yang tak terbatas dan semua atas kehendakNya. Wujud fisik atau non fisik itulah manusia bisa berinteraksi dengan Tuhan. Manusia tak mampu berinteraksi langsung, maka pancaranNya sebagai ‘jembatan’ interaksi ‘vertikal’.

Demikian juga eksistensi Roh Tuhan, RohNya tidak terbelenggu jumlah, tidak terbelenggu waktu, tidak terbelenggu ruang, sebab Dia tidak terbatas. RohNya ada dimana saja, kapan saja, di semua penjuru alam beserta makhluk hidupnya. Disinilah dasar utama bahwa kehadiran Tuhan ada dimana-mana, tanpa terbatas jumlah, waktu maupun ruang.

Alam dan manusia hidup berdampingan, tetapi alam mampu hidup sendirian tanpa manusia, justru manusia menggantungkan hidupnya dari alam. Tanpa manusia, binatang di udara, laut maupun darat, tetap eksis, karena ‘rantai makanan’ disediakan oleh alam. Tanpa binatang, tumbuh-tumbuhan tetap tumbuh mengeluarkan batang-batangnya atau ranting-rantingnya, serta mengeluarkan daun atau bunga.

Namun, manusia sangat membutuhkan air yang disediakan alam, manusia membutuhkan tumbuh-tumbuhan dan binatang untuk makanannya, agar manusia tetap hidup di antara keberadaan alam. Tanpa adanya alam, berarti dunia kosong, karena alam tempat bagi sekian banyak tumbuh-tumbuhan dan binatang. Tanpa alam, manusia mustahil bisa tetap eksis menjalani kehidupannya.

Gambaran rantai kehidupan di alam ini, ibarat duluan mana, ayam atau telur. Tanpa ayam, mustahil ada telur, karena dari ayamlah muncul telur. Tetapi, tanpa telur, mustahil ada ayam, karena telur adalah cikal bakal munculnya ayam. Seperti itulah gambaran rantai kehidupan, tergantung perspektif anda ‘menerjemahkan’ kehidupan itu sendiri.

Hubungan ‘horisontal’ manusia dengan tumbuh-tumbuhan, manusia dengan binatang, manusia dengan makhluk ‘beda dimensi’, adalah hubungan yang berlandaskan harmonisasi. Misalnya, manusia tak peduli salah satu spesies harimau, mereka membantai habis-habisan hingga punah, padahal ketidak adaan harimau di hutan, akan memutus salah satu rantai kehidupan.

Demikian juga hutan, manusia tak peduli pohon-pohon yang tumbuh di hutan, mereka asal-asalan membabat habis semua pohon. Akibatnya, daya tahan tanah di hutan turun drastis, dan tanah longsor menjadi ancaman nyata terhadap pemukiman. Tak cuma itu, serapan air berkurang, otomatis air mengalir ‘semau gue’ menyasar ke pemukiman, ujungnya banjir terjadi.

Lalu, apa hubungannya dengan sesajen? ada, yaitu respon manusia terhadap apa saja yang ada disekitarnya, termasuk alam maupun bangunan-bangunan peradaban masa lalu. Sesajen adalah cipta karya dari imajinasi manusia, dan cipta karya itu adalah pemberian Tuhan secara gratis dan otomatis, alias sudah ada sejak manusia lahir.

Penghargaan atau penghormatan kepada manusia yang terlebih dahulu dilahirkan dan mati, adalah wujud terima kasih dari manusia yang masih hidup. Candi maupun situs peninggalan peradaban masa lalu, tidak lepas dari peran cipta karya orang-orang pada masa itu. Berawal dari imajinasi, muncul upaya mewujudkannya dalam rupa candi atau situs.

Orang Jawa kuno juga menghargai peran besar alam, dari tumbuh-tumbuhan hingga gunung atau bukit. Pohon-pohon berusia ratusan tahun yang berukuran besar, diletakan sesajen. Sesajen itu sendiri adalah respon manusia kepada seluruh makhluk hidup di alam ini, termasuk pepohonan. Dari pohon itulah, keluar udara segar yang diserap manusia, dan pohon itu berstatus ciptaan Tuhan.

Dari sisi metafisik, sesajen memancarkan aura positif yang menyeimbangkan atau menetralisir aura negatif disekitarnya. Selain itu, sesajen menarik gelombang elekromagnetik yang berpotensi menghasilkan energy positif. Tak cuma itu, sesajen juga menjembatani frekuensi pikiran manusia terhadap segala makhluk disekitarnya, dalam artian harmonisasi kehidupan.

Tidak ada satupun literasi Jawa kuno yang menyebut manusia menyembah pohon, batu, gunung dan lainnya di luar vertikal keTuhanan yang tak terjangkau, tak terbatas, tak tergambarkan. Tidak ada satupun literasi Jawa kuno yang menyebut sesajen berhubungan dengan keberadaan makhluk astral dari dimensi lain, dalam artian manusia menyembah makhluk tak kasat mata atau makhluk halus.

Jadi, salah kaprah dan ngawur, kalau sesajen dihubungkan segala hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Artinya, asumsi diciptakan tanpa melihat fakta, ujungnya asumsi melindas fakta itu sendiri.

Sesajen bagian dari kearifan lokal Nusantara yang sudah ada sejak dahulu hingga sekarang. Sesajen adalah salah satu ‘database’ identitas kita. Jangan berasumsi kalau memang tidak tahu, apalagi asumsi di atas asumsi, selanjutnya digunakan alat menyerang kearifan lokal Nusantara.

Kita tinggal di Nusantara, sudah seharusnya budaya Nusantara ini kita jaga, kita rawat, kita lestarikan, karena kitalah pemilik sesungguhnya budaya Nusantara. Nusantara adalah milik kita bersama, dan kita adalah Nusantara. Viva Nusantara. (red)

%d blogger menyukai ini: