NEWS

Investasi Berbasis Agro Dengan Budidaya Labu Shaolin

KEDIRI – Diantara banyak jenis labu, terdapat nama labu shaolin. Entah dari mana sebutan nama itu, namun petani di Dusun Besuk, Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri menyebutnya seperti itu. Lebih uniknya lagi, labu tersebut dijual bukan karena daging buahnya, tapi justru karena kulitnya.

Gatot Siswanto adalah salah satu petani yang membudidayakan labu shaolin. Ia menanami labu shaolin seluas 5 bahu atau sekitar Dari 3.500 meter persegi. “Labu (shaolin) ini kita jual bukan per kilo, tapi per biji. Labunya tidak bisa dimakan, tidak ada buahnya. Per biji kita patok harga Rp 20 ribu, tidak bisa turun, tapi bisa naik,” katanya

Gatot mengaku, pemberian nama labu tersebut sudah ada sejak ia menekuni budidaya labu. “Dari dulu memang bernama labu shaolin. Terkait nama asli jenis labu tersebut, saya tidak tahu, tetapi yang jelas, sejak saya menekuni tanam labu ini, namanya sudah labu shaolin,” tuturnya.

Kulit labu, menurut Gatot, banyak dimanfaatkan untuk kerajinan tangan berbasis “home industri. Harganya biasanya sudah dipatok sesuai yang biasa ditawarkan petani setempat.

Mengenai pemasaran, Gatot mengatakan, permintaannya jauh lebih tinggi dibanding hasil panen labu milik petani. Bahkan belum mencapai 10 persen dari permintaan. “Saat ini permintaannya lebih besar dari stok (labu).

Dari Bali saja menurut Gatot, permintaanya mencapai 1.400 biji/bulan. Tetapi sampai hari ini, tidak bisa memenuhi. Hitunganya, jika semua (labu shaolin) produksi petani dikumpulkan cuma dapat 90, kadang 110, bisa 120 biji.

“Sampai sekarang, kita tidak menjualnya selain dari yang di Bali, karena yang di Bali saja kita sudah tidak bisa (memenuhi), apalagi yang lainnya. Jadi, kita saat ini mulai merintis, agar yang di Bali bisa (dipenuhi),” kata Gatot.

Dari pengamatan sepintas, memang kondisi perkebunan ini masih jauh dari hasil yang ditargetkan konsumen dari Bali, bahkan relatif sangat jauh perbandingannya. Kendati belum terpenuhinya permintaan pasar, petani setempat bertekad memperbaiki luas lahan dan produksi labu, khususnya labu shaolin. Lahan budidaya labu di Dusun Besuk seluas 2,4 ha.

Perkebunan labu ini terletak di Lahan yang digunakan petani, sebagian besar multi fungsi. Petani selain membudidayakn labu, juga menanam cabai, sawi dan jenis tanaman holtikultura lainnya. Banyaknya petani menanam labu, karena lokasinya cukup ideal, lantaran terpaan sinar matahari yang cukup, serta pasokan air yang memadai.

Purwanto, petani labu lainnya mengatakan, jenis labu yang ditanam petani di Desa Toyoresmi adalah labu pekok, labu parang, labu madu, labu shaolin, labu hana, labu siam dan labu tosten. Ketujuh jenis labu tersebut ditanam dengan ukuran atau luas lahannya yang berbeda-beda. Jenis yang paling mendominasi adalah jenis labu madu, sedangkan lainnya rata-rata sama ukuran atau luas lahannya. “Semua labu ini luasnya berbeda-beda, tetapi semua perawatannya sama,” kata Purwanto.

Cara pemeliharaan tanaman labu menurut Purwanto hanya dilakukan penyiraman, pemupukan, penyiangan dan pengajiran. Rasa labu menjadi prioritas utama petani Desa Toyoresmi untuk menarik minat konsumen. “Rasa labu kita utamakan, karena inilah yang dicari konsumen. Kita harus mengutamakan rasa labu yang diinginkan konsumen. Disinilah, konsumen tertarik dan menjadi pelanggan tetap kita,” katanya.

Pembeli labu di Kediri umumnya dari Surabaya, Blitar, Sidoarjo, Mojokerto dan Jombang, ada yang luar Jawa Timur. Namun khusus labu shaolin, pangsa pasarnya berasal dari Bali. Labu shaolin ini bukan buahnya yang diminati, tapi kulitnya untuk kerajinan tangan. (red)

%d blogger menyukai ini: