NEWS

Candi Mireng, Jejak Perwira Elite Di Masa Lalu

JOMBANG – Candi Mireng merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit yang kini masuk dalam wilayah Dukuh Panasan, Dusun Mireng, Desa Sumberagung, Kecamatan Megaluh. Berada tak jauh dari Makam Panasan tepat di depan Musholla Panasan, Candi Mireng kini sudah berada dalam kondisi tinggal reruntuhannya saja.

Berdasarkan petunjuk yang tertera dalam Kitab Negarakertagama Candi Mireng dinyatakan sebagai salah satu titik yang disebutkan di dalam kitab karangan Mpu Prapanca itu. Kemungkinan Vandi Mireng merupakan lokasi perabuan Lembu Tal Sang Ksatria Yudha sekaligus ayahanda dari Raden Wijaya pendiri Wilwatikta.

Selain itu Mireng adalah titik yang dimaksud di dalam Kitab Negarakertagama Pupuh 46 dan 47 yang merupakan tempat dicandikannya Lembu Tal. Ini sesuai dalam Pupuh 46-47 Kakawin Negarakertagama yang menyatakan, “Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal Sang Perwira Yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Budha. Dyah Lembu Tal itulah bapa Sri Baginda Nata.”

Disebutkan di pupuh sebelumnya yakni Pupuh 46, Dyah Lembu Tal adalah Perwira Yudha. Dyah Lembu Tal adalah panglima perang di era Raja Kertanegara dari Singhasari, kerajaan sebelum Majapahit. Perannya begitu strategis sehingga sampai dituliskan dalam kakawin Negarakertagama, bahkan disanjung sebagai sosok yang gagah berani di medan perang.

Bisa dibayangkan Sang Panglima menjadi penopang utama angkatan perang Kerajaan Singhasari. Sosok Dyah Lembu Tal yang dipuji dalam Kitab Negarakertagama disebutkan letak pendermaannya.

Disebutkan dalam Pupuh 46, ayahanda Raja dimakamkan dalam sebuah candi di Mireng dengan arca Budha. Arca Budha juga menjadi pertanda bahwasanya Lembu Tal beragama Budha, salah satu agama yang dianut penduduk Majapahit kala itu.

Umumnya candi-candi peninggalan Majapahit terbuat dari batu bata. Batu andesit adalah pertanda bahwa posisi sosok yang terkait dengan candi ini begitu dihormati sehingga dicandikan dengan bahan istimewa lengkap dengan arcanya.

Bentuk awal Candi Mireng kini sudah tidak bisa diperkirakan lagi karena hanya berupa reruntuhannya saja. Tinggal puing-puing berbentuk balok-balok batu yang siku saja yang berserakan dan ditata enam deret membentuk persegi panjang berjajar mirip tatanan makam.

Meski demikian, candi berupa puing-puing yang dulunya sebagai penyusun pendermaan masih bisa dikenali dengan jelas. Arca Budha yang dulunya melengkapi candi perabuan perwira yudha, kini sudah tidak ada lagi. Bisa jadi hilang atau masih terkubur di bawah tanah.

Padahal, jika masih terdapat arca, lokasi ini lebih mudah dikenali dan nantinya akan sangat membanggakan, karena menjadi salah satu titik yang disebutkan dalam kitab yang menceritakan seluk beluk kerajaan berjuluk Wilwatikta ini. Bisa jadi, di dalam tanah masih ada peripih candi yang berisi abu sang perwira yudha yang didermakan di Candi Mireng.

Peripih yang merupakan tempat menyimpan abu jenazah adalah kotak hitam yang merupakan jantung sebuah candi pendermaan, seperti yang ditemukan di Candi Pundong. Karena merupakan tempat bersejarah, tak jarang para pencari wangsit nyekar di reruntuhan Candi Mireng.

Memang, Mireng bertempat di Megaluh yang merupakan tepi Sungai Brantas yang kala itu menjadi desa pelabuhan dan sarana transportasi utama mobilisasi penduduk. Selain itu, megaluh adalah bagian dari pelabuhan kuno yang ramai karena merupakan bagian dari ibukota Kerajaan Medang yang berada di Tembelang. Tak heran, banyak peninggalan era Mataram Kuno maupun Majapahit tersebar di Megaluh dan sekitarnya seperti Candi Tamping Mojo, Petilasan Damarwulan, maupun bakalan prasasti.

Mireng, bisa jadi juga merupakan sebagai dermaga biasa yang tak jauh dari Watudakon. Watudakon sendiri adalah salah satu pintu gerbang masuk kerajaan Majapahit dari perairan. Sungai Brantas dulunya juga lebih besar dan lebar dua atau tiga kali lipat dari ukuran sekarang. Penyusutan ukuran ini bisa jadi karena pendangkalan sungai maupun hanyutnya material sungai. (red)

%d blogger menyukai ini: