NEWS

Booking Via Online: Realitas dan Fakta

Oleh: Anonymous Ngantang

CMN 101 – Jargon “dapat cuan cukup di rumah saja”, sepintas menarik imajinasi tanpa terukur. Semua orang pasti maunya yang enak-enak saja, tanpa susah payah, cuan mengalir.

Entah sambil ‘ngorok’ dari pagi sampai siang, atau minum kopi sambil merokok di depan rumah. Ajaib, tapi itu mustahil dalam dunia nyata, tiba-tiba ada cuan mengalir ke kantong celana.

Faktanya, tidak seperti itu, bahkan jauh dari fakta. Kelihatannya masuk akal dari sisi penjelasan, tapi tak masuk logika ketika penjelasan itu benar-benar dipraktekan.

Problemnya jelas, orang maunya tidak perlu susah-susah cari cuan, tapi cuan datang tanpa diundang. Cuan datang sendiri inilah yang jadi problem, imajinasi tak terpikirkan menjadi menjadi imajinasi terbayangkan.

Tak lama setelah problem itu muncul, lahirlah reaksi, dan dari reaksi inilah antara realitas dengan ‘keajaiban cuan’ bertabrakan. Cukup duduk atau tiduran di rumah sambil pegang ponsel, cuan mengalir satu persatu ke kantong celana.

Dari reaksi, timbulah solusi, walaupun ini bukan solusi betulan, tapi solusi khayalan, yaitu menuntaskan kebutuhan ekonomi hanya dengan duduk diam sambil berharap ada cuan terkirim. Solusi ini didominasi keinginan cepat dapat cuan, tapi inginnya yang simpel-simpel saja.

Realitas dari problem ke reaksi lanjut ke solusi, tak bakal menjadi fakta. Bukan tanpa sebab hal itu terjadi, karena sudah jelas antara sebab akibat harus ada korelasinya dengan realitas.

Semakin dekat dengan dengan realitas, maka semakin jelas dan terang benderang fakta itu benar-benar terjadi. Sebaliknya, semakin jauh dari realitas, faktapun tidak bakalan terjadi.

Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan, orang yang dapat cuan, sudah pasti harus ada kerja, tanpa kerja, mustahil ada cuan mengalir. Bukan cuma sekedar fakta, realitasnya benar-benar ‘real’, benar sesuai fakta, dan benar sesuai praktek.

Mencari customer yang mau dan benar-benar mau cari tempat penginapan, inilah problem yang sebenarnya. Problem ini muncul, karena kita harus, dan harus benar-benar tahu, customer mana yang ada niat untuk pesan via online.

Yang jelas, customer maunya yang murah-murah. Tidak ada namanya customer mintanya yang mahal, pasti maunya yang murah. Bahkan tidak sekedar murah, maunya juga cepat service. Artinya, antara yang beli dan yang jual ada saling pengertian bahwa setiap layanan harus segera dieksekusi.

Problem lainnya, harus mau tidak mau berinteraksi dengan yang pegang guest house, villa atau hotel. Interaksi ini penting, artinya dua pihak saling memahami satu sama lain. Artinya ada kesepakatan untuk menerima customer sesuai pesanan ‘unlimited’, alias tanpa batasan apapun.

Apa ini terlalu ribet? Dikatakan ribet bagi orang-orang yang mau enaknya saja. Padahal, ini sama sekali tidak ribet. Faktanya, semua tempat penginapan, entah itu guest house, villa atau hotel, menginginkan sebanyak-banyaknya customer ‘tanpa terkecuali’.

Ini penting dilakukan, agar tidak terjadi ‘mis’ dalam penentuan jumlah room yang tersedia. Perlu diingat, semua tempat penginapan juga menerima pesanan secara ‘live’ dari customer. Sudah pasti ini harus sinkron, karena inilah sisi ‘limited’ dari pesanan itu sendiri, yaitu kapasitas.

Tak cuma itu, ketika ‘emergency’, mau tidak mau pihak pengelola penginapan mengontak siapa saja yang mau ‘buka jalur’, ini sudah pasti tidak sedikit pesanan yang dilayani.

Logikanya, pihak penginapan maunya yang murah-murah dibawah ‘IDR’ yang tercatat, supaya ada nilai ‘plus’ dari catatan customer terhadap penginapan itu, yaitu tawaran IDR lebih murah. Ini jelas realitas di lapangan, bukan teori, tapi praktek, dan bisa dibuktikan sendiri.

Reaksi, ungkap realitas sebatas kemampuan, dan tidak memaksakan diri diluar batas. Maksudnya, jangan agresif tanpa melihat ukuran kemampuan diri kita sendiri. Kalau terlewati, biasanya ada celah ‘error’ saat eksekusi, dan ini bisa fatal, customer bisa lari, sekaligus pengelola penginapan ‘menoleh’ ke orang lain.

Gunakan akal sehat, terutama saat eksekusi ‘pay at hotel’, ini bisa jadi ‘bomerang’ bagi pengelola penginapan. Karena disitu ada status ‘deal or no deal’, ya kalau customernya ‘check in’ betulan, kalau tidak, bisa-bisa si pengelola penginapan kena ‘pinalti’.

Wajar kalau si pengelola harus selektif pilih orang, sebab dianya juga bawa resiko antara ‘deal or no deal’ dari pesanan yang di eksekusi. Mudah berpikirnya, tapi tak sesimpel ketika praktek, itulah yang jadi reaksi dari lanjutan problem yang sudah ada.

Beda lagi kalau pesanan itu berstatus ‘prepaid’. Sepintas aman, tapi bisa juga ada pembatalan yang tidak terduga. Yang kecewa sudah pasti si pengelola penginapan, kalau si customer sudah pasti tak bisa ‘disentuh’, itu ‘hak preogratif’ customer.

Inilah pentingnya ‘face to face’ dengan pihak pengelola penginapan, supaya tidak terjadi yang namanya ‘cancel’ setelah eksekusi pesanan. Ujung-ujungnya, sama-sama untung dan sama-sama tidak ada yang dirugikan.

Solusinya sudah pasti, harus ada ‘support’, dan yang paling irit yaitu medsos. Biaya cuma ada di kuota internet, mau banyak, mau sedikit, tergantung si pemakai.

Wifi, ini bisa diandalkan, tapi tidak bisa digantungkan. Lho kok bisa? Semua serba tidak terduga, tidak terjadwal, kapan saja dan dimana saja. Kalau diprosentase sesuai praktek, 90% pesanan saat posisi diluar lingkaran wifi.

Harga murah dibawah IDR tercatat di APK, menjadi dasar pokok mau tidaknya customer mengontak. Kalau IDRnya sama saja dengan yang ada di APK, lalu apa gunanya customer mengontak. Ini logika yang dibarengi akal sehat.

Penjelasan diatas tidak serumit yang dibayangkan, kalau praktek itu dijalani betulan. Karena ‘hukum ekonomi’ mengatakan “tidak ada tempat penginapan manapun yang membatasi customer”, ini fakta yang tidak terbantahkan.

Sama halnya si pengelola penginapan mengatakan “tidak ada room manapun yang tidak dijual”, sama saja dianya ngomong “room semua harus terisi”, entah ngisinya pakai apa, yang jelas kalau bisa isi penuh, ini juga fakta yang mustahil dihindari. (red)

%d blogger menyukai ini: